Return-Path: <sentto-10390390-4328-1115406416-Made.Sambu=BaliSOS.com@returns.groups.yahoo.com>
Delivered-To: balisos-Made.Sambu@BaliSOS.com
Received: (qmail 18159 invoked by uid 0); 6 May 2005 19:09:11 -0000
Received: from sentto-10390390-4328-1115406416-Made.Sambu=BaliSOS.com@returns.groups.yahoo.com by NICService.net by uid 301 with qMail-scanner-3.1/Sambu
 (iscan: v3.1/v7.510-1002/613/101189. spamassassin: 3.0.2.  Clear:RC:0:SA:0(3.8/4.8):.
 Processed in 5.761009 secs); 06 May 2005 19:09:11 -0000
Received: from n15b.bulk.scd.yahoo.com (209.73.160.82)
  by balisos.com with SMTP; 6 May 2005 19:09:05 -0000
Received: from [66.218.69.1] by n15.bulk.scd.yahoo.com with NNFMP; 06 May 2005 19:08:06 -0000
Received: from [66.94.237.55] by mailer1.bulk.scd.yahoo.com with NNFMP; 06 May 2005 19:08:06 -0000
X-yahoo-newman-spamcop: yes
Received: from [66.218.69.6] by n26.bulk.scd.yahoo.com with NNFMP; 06 May 2005 19:06:57 -0000
Received: from [66.218.66.27] by mailer6.bulk.scd.yahoo.com with NNFMP; 06 May 2005 19:06:57 -0000
X-Yahoo-Newman-Property: groups-email
Received: (qmail 82000 invoked from network); 6 May 2005 19:06:51 -0000
Received: from unknown (66.218.66.218)
  by m21.grp.scd.yahoo.com with QMQP; 6 May 2005 19:06:51 -0000
Received: from unknown (HELO n15a.bulk.scd.yahoo.com) (66.94.237.32)
  by mta3.grp.scd.yahoo.com with SMTP; 6 May 2005 19:06:51 -0000
Received: from [66.218.69.4] by n15.bulk.scd.yahoo.com with NNFMP; 06 May 2005 19:06:37 -0000
Received: from [66.218.66.81] by mailer4.bulk.scd.yahoo.com with NNFMP; 06 May 2005 19:06:37 -0000
X-Sender: johnmacdougall@comcast.net
X-Apparently-To: indonesian-studies@yahoogroups.com
Received: (qmail 89376 invoked from network); 6 May 2005 18:41:38 -0000
Received: from unknown (66.218.66.167)
  by m30.grp.scd.yahoo.com with QMQP; 6 May 2005 18:41:38 -0000
Received: from unknown (HELO sccrmhc12.comcast.net) (204.127.202.56)
  by mta6.grp.scd.yahoo.com with SMTP; 6 May 2005 18:41:38 -0000
Received: from VAIO (pcp0010546988pcs.anaprd01.md.comcast.net[68.50.229.179])
          by comcast.net (sccrmhc12) with SMTP
          id <2005050618413601200spgp2e>; Fri, 6 May 2005 18:41:36 +0000
Message-ID: <009901c5526b$3491b5f0$0a00a8c0@VAIO>
To: "indonesian-studies" <indonesian-studies@yahoogroups.com>
X-Priority: 3
X-MSMail-Priority: Normal
X-Mailer: Microsoft Outlook Express 6.00.2900.2180
X-MimeOLE: Produced By Microsoft MimeOLE V6.00.2900.2180
X-Originating-IP: 204.127.202.56
X-eGroups-Msg-Info: 1:12:0
From: "John MacDougall" <johnmacdougall@comcast.net>
X-Yahoo-Profile: apakabar2
X-eGroups-Approved-By: apakabar2 <johnmacdougall@comcast.net> via web; 06 May 2005 19:06:35 -0000
Sender: indonesian-studies@yahoogroups.com
MIME-Version: 1.0
Mailing-List: list indonesian-studies@yahoogroups.com; contact indonesian-studies-owner@yahoogroups.com
Delivered-To: mailing list indonesian-studies@yahoogroups.com
List-Id: <indonesian-studies.yahoogroups.com>
Precedence: bulk
List-Unsubscribe: <mailto:indonesian-studies-unsubscribe@yahoogroups.com>
Date: Fri, 6 May 2005 14:41:20 -0400
Subject: [indonesian-studies] Corrupt Bali Police & Prosecutors Threatening Internet and Personal Freedoms
Content-Type: text/html; charset=ISO-8859-1
Content-Transfer-Encoding: 7bit

<html><body>



<br>

<!-- |**|begin egp html banner|**| -->

<table border=0 cellspacing=0 cellpadding=2>
<tr bgcolor=#FFFFCC valign=middle>
<td width=167><a href="http://groups.yahoo.com/"><img border=0 src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/yg/img/logo/yg2.gif" width="166" height="22" alt="Yahoo! Groups"></a></td>
<td width=298>
<font size="-1">
<a href="http://groups.yahoo.com/mygroups">My Groups</a> |
<a href="http://groups.yahoo.com/group/indonesian-studies">indonesian-studies Main Page</a>
</font>
</td>
</tr>
<tr><td colspan=2></td></tr>
</table>
<br>

<!-- |**|end egp html banner|**| -->

<p>

<tt>
The letter reproduced here presents an ongoing example of Bali police and prosecutorial<BR>
corruption.&nbsp; While indonesian-studies list is not in the advocacy business, I post it to illustrate<BR>
vividly the type of blatant, unchecked official corruption spoiling people's lives and violating<BR>
their rights in today's Bali.&nbsp; (See especially yesterday's posting<BR>
<a href="http://groups.yahoo.com/group/indonesian-studies/message/4326">http://groups.yahoo.com/group/indonesian-studies/message/4326</a> )<BR>
<BR>
The case also cogently illustrates a threat to expansion of&nbsp; internet access in Indonesia<BR>
and thus has far greater implications beyond the welfare of the persons involved.<BR>
Until the offending officials are forced to cease and desist and are themselves held to account,<BR>
freedom of expression and freedom to earn a legitimate livelihood remain sacrificed to abusive<BR>
state power.&nbsp; There is a need for immediate intervention by other responsible governmental<BR>
and non-governmental persons and bodies.<BR>
<BR>
Full documentation on this case is available at <a href="http://baliwireless.com/reskrim/">http://baliwireless.com/reskrim/</a> .<BR>
<BR>
Please send any further correspondence directly to Harry Bleckert &lt;Harry@Bleckert.com&gt;.<BR>
<BR>
--<BR>
<BR>
Kuta, 4 April 2005<BR>
<BR>
Kepada Yth.<BR>
<BR>
Kepala Kepolisian Republik Indonesia<BR>
<BR>
Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia<BR>
<BR>
Jl. Trunojoyo no. 3 Jakarta<BR>
<BR>
Perihal : Laporan Pengaduan<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
Dengan hormat,<BR>
<BR>
Saya yang bertandatangan di bawah ini:<BR>
<BR>
Nama : Harald Bleckert alias Made Sambu<BR>
<BR>
Jenis Kelamin : Laki-laki<BR>
<BR>
Umur : 49 tahun<BR>
<BR>
Agama : Hindu<BR>
<BR>
Pekerjaan : Karyawan Swasta<BR>
<BR>
Kewarganegaraan : Jerman<BR>
<BR>
Alamat : Banjar Tandeng Tibubeneng, Kuta Utara, Gang Mawar nomor 5, Badung, Bali.<BR>
<BR>
<BR>
Dengan ini hendak mengajukan laporan pengaduan kehadapan Bapak Kapolri sehubungan dengan Perbuatan <BR>
Melanggar Hukum yang dilakukan oleh oknum aparat kepolisian dan kejaksaan di Bali baik terhadap <BR>
perusahaan CV. Candi Internet (CI) maupun pribadi Direktur Utama yaitu Sang Ayu Made Karnasih.<BR>
<BR>
<BR>
Tiada lain maksud saya menyampaikan laporan ini karena kewajiban sebagai masyarakat yang melihat <BR>
perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh para penegak hukum. Atas laporan ini saya meminta <BR>
perlindungan hukum untuk diri saya serta jaminan tindaklanjut atas laporan pengaduan saya ini. Untuk <BR>
itu saya mohon kepada Bapak Kapolri agar memerintahkan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Bali untuk <BR>
menindaklanjuti laporan saya ini dengan sungguh-sungguh.<BR>
<BR>
<BR>
Keterkaitan saya terhadap para korban tersebut diatas adalah sebagai berikut:<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp; a.. Suami dari Sang Ayu Made Karnasih<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp; b.. Orang tua dari anak di bawah umur yang menghadapi tekanan dari penyidik POLDA Bali<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp; c.. Penanam modal di perusahaan CV. Candi Internet<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp; d.. Karyawan CV. Candi Internet<BR>
<BR>
<BR>
Dengan ini saya sampaikan kronologi kejadian selengkapnya:<BR>
<BR>
<BR>
CV. Candi Internet (CI) yang didirikan sesuai Akta Notaris I Putu Chandra, SH nomor 13 tanggal 2 <BR>
Oktober 2001. (B-1)<BR>
<BR>
<BR>
Pada awalnya CI hanya perusahaan yang menyediakan jasa warnet dan web design kemudian baru pada <BR>
April 2004 berencana untuk menjadi Internet Service Provider (ISP). Berbagai informasi kami <BR>
kumpulkan mengenai cara menjadi ISP termasuk masalah perijinan. Informasi yang kami dapat bahwa ijin <BR>
harus di dapat dari pusat (Jakarta) dan untuk itu ada uang yang harus dikeluarkan guna menyuap <BR>
pejabat yang berwenang agar permohonan dapat disetujui.<BR>
<BR>
<BR>
Guna menghindari perbuatan kriminal tersebut kami menambah informasi dengan melihat kegiatan usaha <BR>
sejenis yang dilakukan para ISP yang ada di Indonesia. Maka kami mengetahui praktek subnet (B-2) <BR>
yang dilakukan Indo.net Jakarta dengan suatu CV di Makasar. Selanjutnya kami mencari mitra ISP di <BR>
Jakarta yang memiliki ijin ISP nasional (B-3) namun belum membangun di Bali.<BR>
<BR>
<BR>
Kemudian PLB menawarkan diri setelah mendapatkan konfirmasi dari seseorang di DirJen Postel bahwa <BR>
subnet diperbolehkan. Maka pada tanggal 19 April 2004 antara PLB dan CI disepakati Perjanjian Kerja <BR>
Sama subnet (B-4).<BR>
<BR>
<BR>
Pada tanggal 23 September 2004 DirJen PosTel mengundang para ISP di Bali (ada belasan ISP namun <BR>
sebagian besar tidak memiliki ijin sama sekali) guna mensosialisasikan UU Telekomunikasi terutama <BR>
mengenai perijinan. Turut hadir sebagai undangan adalah: 2 jaksa pada Kejaksaan Tinggi Bali, 2 <BR>
pejabat pada Dinas Perhubungan Propinsi Bali dan 2 perwira polisi POLDA Bali bagian KORWAS (B-5). <BR>
Pada pertemuan tersebut para ISP dihimbau agar mengurus ijin dan diberikan waktu 3 (tiga) bulan <BR>
untuk melengkapi perijinan. Ditegaskan lagi oleh penyelenggara bahwa sosialisasi ini akan <BR>
dilanjutkan sehingga tidak akan ada penertiban dalam beberapa bulan kedepan.<BR>
<BR>
<BR>
Namun belum genap satu bulan sejak pertemuan tersebut, ada aparat kepolisian dari Polda Bali (bukan <BR>
dari bagian KORWAS yang turut hadir sebagai undangan) melakukan penggeledahan pada malam hari di CI. <BR>
Berikut ini kejadiannya:<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp; 1.. Penggeledahan pada tanggal 22 Oktober 2004 dilakukan dengan paksa pada malam hari (setelah jam <BR>
kantor) pada pukul 19:30 tanpa disetujui (bahkan ditentang) pemilik rumah namun penggeledahan tetap <BR>
dilakukan tanpa didampingi aparat desa, tanpa ijin khusus untuk itu dan tanpa BAP. Satu-satunya <BR>
surat yang ditunjukkan polisi adalah Surat Tugas dari internal Polda Bali untuk penyidikan terhadap <BR>
PT. Candi Internet (Bukan CV. Candi Internet). 3 Orang polisi tersebut adalah T3, T5 dan seorang <BR>
polisi yang tidak diketahui identitasnya, mereka semua tanpa menggunakan pakaian dan atribut polisi. <BR>
Pihak CI mengatakan akan memanggil advokat untuk menyaksikan proses penggeledahan itu namun para <BR>
polisi tersebut tidak mau peduli dan melanjutkan kegiatan penggeledahan. Para polisi melakukan <BR>
intimidasi, memaksa karyawan CI untuk tidak menghalangi kegiatan mereka kalau tidak menuruti maka <BR>
polisi mengancam akan menangkap para karyawan. Berbagai perijinan ditanyakan polisi, kemudian masuk <BR>
ke dalam ruangan kerja dimana peralatan kerja disimpan lalu mengambil foto beberapa kali tanpa <BR>
persetujuan pemilik barang dan kantor.<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp; 2.. Penyitaan dilakukan keesokan harinya, tepatnya pada Hari Sabtu tanggal 23 Oktober 2004 pukul <BR>
12:00 tanpa surat ijin dari Pengadilan Negeri dengan alasan karena mendesak. Saat ditunjukkan <BR>
kelengkapan perijinan CI sebagai subnet atas ISP berijin nasional dari Jakarta, tanpa berpikir <BR>
panjang dan tanpa pertimbangan intelektual bahkan tanpa membaca surat perijinan yang dimiliki CI <BR>
penyidik langsung menyatakan bahwa Subnet itu ilegal dan langsung menyita alat-alat milik CI. <BR>
Penyidik tidak menyelidiki dahulu bagaimana bentuk kerjasama yang dilakukan ISP besar seperti <BR>
Indo.net yang ternyata juga melakukan bentuk subnet serta penyidik tidak mengetahui ketentuan APJII <BR>
tentang subnet/franchise/reseller (B-6) namun langsung bertindak secara gegabah dan arogan; <BR>
berteriak-teriak dan memukulkan ke atas meja surat-surat perijinan yang diberikan CI.<BR>
<BR>
&nbsp; Para penyidik tidak memiliki pengetahuan yang memadai untuk melaksanakan tugas mereka namun nampak <BR>
ada tujuan tertentu dibalik penggeledahan dan rencana penyitaan tersebut; T3 dengan suara yang <BR>
memekakan telinga memerintahkan karyawan CI untuk membuka website CI, kemudian mengarahkan kepada <BR>
satu halaman tertentu yaitu mencari &quot;price comparison&quot; dengan BL padahal bagian ini amatlah khusus <BR>
dan merupakan persaingan bisnis antara CI dan BL, tetapi anehnya T3 langsung menuju pada hal <BR>
tersebut padahal untuk pengetahuan yang secara umumpun T3 tidak memahaminya yaitu saat website CI <BR>
dibuka, T3 menanyakan mana ijin website CI ??? Pertanyaan yang sangat konyol untuk ditanyakan oleh <BR>
Penyidik dari Unit Cyber Crime POLDA Bali karena masyarakat awampun mengetahui bahwa pembuatan <BR>
website tidak memerlukan ijin. Saat CI menyampaikan pengetahuan tersebut, untuk menutupi <BR>
kebodohannya, T3 tetap bersikeras dengan mengatakan bahwa &quot;WEBSITE DI INDONESIA HARUS ADA IJIN!!!!&quot; <BR>
Kejadian ini dapat dijadikan prestasi tersendiri bagi jajaran Unit Cyber Crime POLDA Bali karena <BR>
saat T3 menunjukan kebodohan itu disaksikan oleh rekan-rekan lainnya bahkan atasan yaitu T2 namun <BR>
semua penyidik tidak berkomentar KARENA MEREKA MEMANG TIDAK MEMAHAMINYA. Ada alasan khusus yang <BR>
mengundang mereka melakukan penyidikan terhadap CI.<BR>
<BR>
&nbsp; Kemudian para penyidik yang terdiri atas 3 (tiga) polisi yang melakukan penggeledahan ditambah T2 <BR>
serta 2 (dua) polisi lainnya yang berjaga diluar kantor CI melakukan penyitaan dengan hanya <BR>
memberikan Tanda Terima (B-7).<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp; 3.. Penyitaan yang dilakukan tidak sesuai ketentuan pasal 38 jo. 129 KUHAP.<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp;&nbsp;&nbsp; 1.. Penyitaan tanpa ijin Ketua Pengadilan Negeri. Alasan mendesak adalah alasan yang tidak masuk <BR>
akal dan terkesan terlalu dibuat-buat. Tidak ada kemungkinan bahwa benda-benda tersebut dapat segera <BR>
musnah, menimbulkan bahaya maupun menimbulkan kerusakan lingkungan secara luas jika tidak segera <BR>
disita.<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp;&nbsp;&nbsp; 2.. Seandainyapun dipaksakan alasan tersebut, mengapa penyitaan yang mendesak itu tidak <BR>
dilakukan pada hari pertama saat penyidik datang tetapi menunggu keesokan harinya padahal saat hari <BR>
pertama telah menunjukkan tanda-tanda akan melakukan penyitaan yaitu dengan mengambil foto <BR>
benda-benda tersebut tanpa persetujuan pemilik.<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp;&nbsp;&nbsp; 3.. Alasan mendesak sehingga tidak sempat meminta ijin penyitaan juga merupakan kejanggalan <BR>
karena pada hari pertama penyidik sempat membawa surat tugas untuk melakukan penyidikan terhadap PT. <BR>
Candi Internet dan kemudian keesokan harinya penyidik sempat mendapat surat tugas baru yaitu untuk <BR>
melakukan penyidikan terhadap CV. Candi Internet.<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp;&nbsp;&nbsp; 4.. Kedua benda yang disita, karena peruntukannya temasuk dalam paham kebendaan-takbergerak, si <BR>
pemilik telah menghubungkan benda-benda tersebut kepada kebendaan-kebendaan tak bergeraknya. Benda <BR>
tersebut digunakan untuk menjalankan usaha dalam suatu perusahaan yang berada dalam rangkaian <BR>
peralatan kerja. Benda-benda itu tidak dapat dilepaskan dengan tidak memutus, dimana benda-benda itu <BR>
dilekatkannya. Tanpa persetujuan pemilik, T2 melepas sendiri rangkaian peralatan tersebut.<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp; 1.. Tanggal 24 Oktober 2004 karyawan CI, P3 meminta penjelasan kepada rekan di Jakarta guna <BR>
menanyakan perijinan ISP. Namun tanpa diduga berita tersebut disampaikan kepada IndoWLI sehingga <BR>
akhirnya meluas melalui pemberitaan detik.com (B-8,9,10).<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp; 2.. Tanggal 25 Oktober 2005 P3 menemui T2 dengan maksud agar peralatan yang disita dapat <BR>
dikembalikan atau setidak-tidaknya dipinjamkan kepada CI karena dengan diambilnya alat-alat tersebut <BR>
oleh polisi maka CI tidak dapat bekerja sedangkan banyak karyawan yang menggantungkan hidupnya pada <BR>
kegiatan CI. Namun permohonan tersebut ditolak dan T2 meminta P3 untuk menyampaikan Surat Panggilan <BR>
kepada P1 agar hadir di Polda Bali guna pemeriksaan sebagai Tersangka (B-11).<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp; 3.. Atas dasar simpati terhadap musibah yang menimpa CI maka pada tanggal 27 Oktober 2004, S1 <BR>
menawarkan diri untuk menjadi mediator guna memusyawarahkan masalah penyitaan ini kepada Polda Bali.<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp; 4.. Tanggal 28 Oktober 2004 S1 datang ke Bali dan langsung menemui Wakapolda didampingi oleh S2. <BR>
Suatu hal yang sangat tidak diharapkan terjadi, Polda justru mengancam S2 dengan mengatakan akan <BR>
melakukan penangkapan atas dugaan keterlibatan S2 pada kegiatan CI.<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp; 5.. Pada saat yang bersamaan P1 diperiksa T2 sebagai Tersangka tanpa didampingi Penasihat Hukum. <BR>
Setelah proses yang panjang, P1 diminta untuk datang kembali keesokan harinya agar membawa <BR>
bukti-bukti surat berupa Invoice.<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp; 6.. Tanggal 29 Oktober 2004 P1 datang memenuhi permintaan Penyidik dengan membawa Invoice hingga <BR>
pemeriksaan selesai. Pemeriksaan tersebut berlangsung selama 2 (dua) hari namun dalam BAP tidak <BR>
dicantumkan dengan jelas, seolah-olah selesai dalam satu hari pada tanggal 28 Oktober 2004 (B-12). <BR>
Sebagai Tersangka, P1 tidak mendapat Turunan BAP seperti yang diatur dalam KUHAP meskipun hal itu <BR>
telah berulang kali diminta P1 kepada penyidik baik secara langsung maupun melakui kuasa hukumnya <BR>
yang diberi wewenang khusus untuk itu. Bahkan hingga saat ini, P1 belum mendapatkan Turunan BAP <BR>
tersebut.<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp; 7.. Sekitar awal November 2004 S1 datang lagi ke Bali bersama seseorang dikenalkan sebagai <BR>
advokat. CI menanggung biaya perjalanan. Mereka berdua menawarkan jasa rekonsiliasi dengan menghadap <BR>
ke POLDA lagi. Hasilnya di hotel tempat menginap S1 menyampaikan kepada P3, S4 dan S5 bahwa untuk <BR>
menutup kasus yang dialami CI diperlukan dana sebesar US$ 14,000.00 (empat belas ribu dolar amerika) <BR>
yaitu US$ 70,000.00 untuk jasa S1 dan US$ 70,000.00 lagi untuk diberikan kepada oknum di POLDA.<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp; 8.. Muncul pemberitaan bohong yang simpang siur di berbagai media lokal mengutip keterangan dari <BR>
T6. Hal tersebut sangat mencemarkan nama baik CI karena mencantumkan identitas dan alamat lengkap <BR>
serta inisial P1 sebagai pemilik. Tanpa memperhatikan asas Praduga tak Bersalah T6 melakukan Trial <BR>
by The Press sehingga muncul anggapan masyarakat termasuk calon pelanggan terhadap CI (B-13,14,15). <BR>
Fitnah disampaikan melalui media massa dengan mengatakan bahwa CI adalah ISP gelap yang ditertibkan <BR>
bahkan dikatakan CI melakukan percurian data satelit padahal semua pernyataan T6 tersebut tanpa <BR>
didukung bukti yang akurat. Sejak pemberitaan itu CI merasa terancam.<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp; 9.. Pemerasan dilakukan oleh oknum Kanit pada Hari Kamis tanggal 4 Nopember 2004. Siang hari T2 <BR>
menelpon P1 agar bersama P2 datang ke BB pada pukul 20:00 WITA menemui T2 untuk membicarakan <BR>
kemungkinan menutup kasus. Seperti biasa tanpa bekal kemampuan dan pengetahuan yang cukup memadai <BR>
selaku penyidik T2 membuat pernyataan bahwa seharusnya CI menggunakan nama yang sama dengan PLB <BR>
apabila ingin menjalankan usaha di Bali. Tentu saja dengan penuh keheranan P2 tidak dapat <BR>
membayangkan ada 2 perusahaan berbentuk PT dengan nama sama tapi kepemilikan berbeda; satu di <BR>
Jakarta dan satu lagi di Bali. Namun dengan bersikeras T2 tetap berpendirian bahwa hal itu harus <BR>
dilakukan CI sebagai syarat utama jika tetap ingin berusaha di Bali.<BR>
<BR>
&nbsp; Setelah menunjukkan isi otaknya yang kosong, T2 meminta dana untuk menutup kasus kepada P1 sebesar <BR>
Rp 100.000.000,- (seratus juta rupiah). Dikatakan T2 bahwa uang tersebut adalah untuk diberikan <BR>
kepada atasannya di POLDA Bali.<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp; 10.. Atas saran Konsulat Jerman, kami menunjuk seorang advokat guna membantu kami menyelesaikan <BR>
masalah tersebut. Advokat tersebut berjanji untuk menyelesaikan kasus dalam seminggu dengan cara <BR>
bernegosiasi dengan penyidik namun setelah 3 (tiga) minggu bernegosiasi tidak mencapai kesepakatan <BR>
harga. Ada hal lain yang menunjukkan adanya pemerasan yang dilakukan oleh penyidik terhadap CI <BR>
karena sebelum kami menggunakan jasa advokat tersebut, penyidik dengan penuh semangat melakukan <BR>
intimidasi terhadap CI namun selama proses negosiasi harga damai, penyidik sama sekali tidak <BR>
melakukan upaya penyidikan apapun tetapi 3 (tiga) minggu kemudian setelah negosiasi gagal dan CI <BR>
menunjuk advokat baru yang tidak ingin bernegosiasi maka para penyidik kembali melakukan intimidasi <BR>
terhadap CI.<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp; 11.. Setelah 3 (tiga) bulan sejak dimulainya penyidikan, belum ada pelimpahan kasus kepada <BR>
Penuntut Umum. Berbagai alasan disampaikan para penyidik untuk mengulur-ulur waktu penyelesaian <BR>
kasus ini, antara lain; para penyidik sedang menjalani pendidikan dan pelatihan selama seminggu, <BR>
akan memanggil saksi-saksi dari Jakarta, kesibukan polisi sehubungan Munas Golkar di Bali, kesibukan <BR>
pengamanan Tahun Baru, orang tua Kanit meninggal dunia, wadir dan direskrim tidak ada di Bali dan <BR>
masih banyak alasan tidak masuk akal lainnya. Segala alasan tersebut adalah karena urusan intern <BR>
Polda Bali, bukan dikarenakan CI namun karena proses penyidikan dan terutama karena penyitaan yang <BR>
dilakukan penyidik maka CI telah mengalami kerugian yang sangat besar akibat proses yang <BR>
berlarut-larut.<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp; 12.. Pada setiap Surat Panggilan dicantumkan alasan pemanggilan dengan mencantumkan Pasal 47 UU <BR>
no.36 tahun 1999 yaitu CI diduga tidak memiliki ijin menjalankan usaha ISP namun setelah waktu <BR>
penyidikan yang panjang akhirnya penyidik menyadari bahwa praktek subnet yang dilakukan CI <BR>
dibenarkan menurut aturan APJII bahkan Penuntut Umum pun mengembalikan berkas kepada penyidik karena <BR>
tidak cukup bukti. Namun sikap penyidik yang tidak memahami aturan hukum namun arogan yang sejak <BR>
awal ditunjukkan kembali dipertahankan. Penyidik mencari-cari alasan lain agar dapat menimbulkan <BR>
masalah bagi CI dengan membawa kasus ke meja hijau. Salah satu sikap tidak profesional yang <BR>
ditunjukan penyidik yaitu saat penyidik menyatakan bahwa bentuk badan hukum CV.CI tidak <BR>
diperkenankan menjalankan usaha ISP karena harus berbentuk badan hukum PT dengan alasan ada aturan <BR>
yang mensyaratkan bentuk perseroan. Menurut penyidik, CV adalah bukan perseroan. Ini adalah hal <BR>
terbodoh yang ditunjukkan penyidik karena Vennootshap artinya adalah perseroan.<BR>
<BR>
&nbsp; Kemudian penyidik melanjutkan lagi penyidikan dengan fokus kepada masalah sertifikasi alat yang <BR>
digunakan CI. Padahal penyidik mengetahui bahwa CI belum menggunakan alat tersebut serta membeli <BR>
dari TDS yang telah belasan tahun menjual alat-alat telekomunikasi. Penyidik bersikeras melimpahkan <BR>
kasus ini kepada Penuntut Umum padahal penyidik belum melakukan pemeriksaan terhadap TDS. Proses <BR>
penyidikan menjadi simpang siur dan tidak terarah. Hingga saat ini Penyidik tidak pernah <BR>
menyampaikan Dasar Penyidikan baik kepada CI maupun P1.<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp; 13.. Selama proses penyidikan tersebut para polisi melakukan tekanan terhadap diri pribadi sebagai <BR>
berikut:<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp;&nbsp;&nbsp; a.. Terhadap P1<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp;&nbsp;&nbsp; a.. Tanpa bukti permulaan yang cukup mengenai keabsahan kerjasama subnet, penyidik telah <BR>
menetapkan status Direktur Utama sebagai Tersangka. Sebagai seorang wanita yang tidak pernah <BR>
bermasalah dengan kepolisian tentu saja hal tersebut merupakan tekanan mental yang sangat berat.<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp;&nbsp;&nbsp; b.. Pemeriksaan pertama dilakukan selama 2 (dua) hari berturut-turut dalam 1 (satu) BAP dan <BR>
Penyidik mengetahui Surat Keterangan Dokter yang menyatakan bahwa pada 2 (dua) hari itu P1 dalam <BR>
keadaan sakit dan perlu istirahat. Hingga saat ini P1 tidak menerima turunan BAP walaupun telah <BR>
berulang kali diupayakan untuk mendapatkannya. Penyidik sengaja mempersulit P1 untuk mendapatkan <BR>
haknya memperoleh turunan BAP karena banyak kejanggalan lainnya dalam BAP tersebut. P1 seolah-olah <BR>
hapal seluruh data dan kata pada invoice TDS. Nampak bahwa seluruh pernyataan dan jawaban P1 <BR>
diarahkan oleh orang lain.<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp;&nbsp;&nbsp; c.. Surat panggilan untuk hadir dalam pemeriksaan sebagai TERSANGKA untuk kedua kalinya <BR>
disampaikan penyidik Polda Bali kepada tetangga P1 pada hari libur/diluar jam kerja. Hal tersebut <BR>
telah mencemarkan nama baik P1 (B-16). Interogasi dilakukan penyidik T4 dengan tekanan melalui suara <BR>
keras dan membentak-bentak di hadapan anak perempuan P1 dan P2 yang masih berusia dibawah umur.<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; a.. T5 melakukan aksi teror dengan menelpon P1 pada Hari Rabu tanggal 22 Desember 2004 pukul <BR>
08:40 yang maksudnya menyuruh P1 datang ke Polda Bali untuk wajib lapor setiap Hari Senin dan Kamis <BR>
kalau tidak &quot;ya Ibu taulah akibatnya&quot;. Padahal penyidik yang lebih senior yaitu T3 telah menyanggupi <BR>
kepada Kuasa Hukum tersangka bahwa untuk perintah wajib lapor akan disampaikan secara tertulis.<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; b.. Tekanan juga disampaikan T3 dan T4 dihadapan banyak saksi (suami dan karyawan P1) <BR>
mengatakan bahwa akan membuat Surat Perintah Penahanan untuk P1.<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp;&nbsp;&nbsp; a.. Terhadap P3<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp;&nbsp;&nbsp; a.. Pemeriksaan terhadap P3 pertama kali dilakukan tanpa surat panggiglan namun hanya secara <BR>
lisan tetapi interogasi dilakukan hingga pukul 24:00 WITA.<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp;&nbsp;&nbsp; b.. Untuk pemeriksaan kedua, T1 melakukan panggilan untuk hadir pada tanggal 23 Desember 2004 <BR>
(B-17). P3 diinterogasi oleh 3 (tiga) penyidik (T2, T3 dan T4) secara maraton (hal tersebut tertuang <BR>
dalam BAP), T3 berteriak-teriak dengan beralasan bahwa itu memang sudah logat bicaranya. Kemudian <BR>
pada hari yang sama pula (23 Desember 2004) orang yang sama yaitu T1 memanggil P3 kembali untuk <BR>
hadir pada hari berikutnya (B18). Nampak secara kasat mata bahwa hal ini adalah bentuk <BR>
penyalahgunaan wewenang yang dilakukan penyidik guna melakukan penekanan terhadap P3.<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; a.. Bahwa kasus ini telah dijadikan media uji coba dan CI sebagai kelinci percobaan.<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; a.. Penyidikan terhadap Internet Service Provider (ISP) yang diduga tidak memiliki ijin <BR>
merupakan hal baru di Indonesia. Pertama kali terjadi di Jogjakarta dan yang saat ini dilakukan <BR>
terhadap CI merupakan yang kedua di Indonesia. Sebagai kasus yang pertama kali terjadi di Bali dapat <BR>
dimaklumi para penyidik tidak memiliki pengalaman bahkan pengetahuan dan pemahaman yang cukup <BR>
terhadap peristiwa yang terjadi, peraturan yang berlaku dan penerapan peraturan pada peristiwa <BR>
tersebut.<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; a.. Terhadap tindakan sewenang-wenang oleh aparat penegak hukum tersebut, S3 menaruh simpati <BR>
kepada CI dan menyarankan CI untuk melaporkan kejadian tersebut ke Komnas HAM. Sebagai salah seorang <BR>
pendiri ISP besar, S3 sangat menyesalkan sikap penyidik apalagi diketahui bahwa CI bahkan belum <BR>
melakukan kegiatan ISP (B-19).<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; a.. Menunjuk pada kasus serupa yang terjadi di Jogjakarta, penyidikan tidak dilanjutkan <BR>
(B-20). Kepolisian dan Pemerintah (DirJen PosTel) memberikan permakluman atas kekurangpahaman <BR>
pengusaha mengenai aturan tentang perijinan. Di lain pihak, para pengusaha berjanji untuk segera <BR>
melengkapi syarat perijinan yang seharusnya.<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; a.. Berdasarkan Undang-undang, Pemerintah melakukan pembinaan terhadap penyelenggara <BR>
telekomunikasi. Dalam hal ini DirJen PosTel melakukan pembinaan pada tanggal 23 September 2004. Pada <BR>
pertemuan tersebut Balai Monitor Denpasar mengatakan bahwa akan melanjutkan pembinaan tersebut <BR>
hingga beberapa bulan kedepan.<BR>
<BR>
Ditegaskan lagi oleh S2 bahwa tim tidak akan melakukan sweeping (penertiban) terhadap penyelenggara <BR>
telekomunikasi dalam masa beberapa bulan setelah pembinaan yang pertama kali dilakukan dengan <BR>
undangan seminar tersebut. Tim tersebut, termasuk didalamnya adalah: 2 jaksa pada Kejaksaan Tinggi <BR>
Bali, 2 pejabat pada Dinas Perhubungan Propinsi Bali dan 2 perwira polisi POLDA Bali bagian KORWAS.<BR>
<BR>
Namun yang dilakukan penyidik dalam kasus ini adalah penertiban pada waktu belum sampai satu bulan <BR>
sejak pembinaan tersebut. Terhadap tindakan itu, S2 pun menyampaikan rasa terkejutnya. Tidak ada <BR>
koordinasi antara penyidik dengan tim tersebut (B-21).<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; a.. Peraturan yang mensyaratkan ISP harus memiliki ijin menjadi alasan penyidik melakukan; <BR>
penggeledahan, penyitaan dan pemeriksaan saksi/tersangka. Namun setelah mengetahui ternyata CI <BR>
memilik ijin ISP sebagai subnet PLB, kemudian selama dua bulan lebih hingga saat ini sibuk <BR>
mencari-cari kesalahan lain pada CI. Padahal, kembali pada peraturan yang berlaku, pengembangan <BR>
penyidikan mengarah kepada hal-hal yang bukan merupakan tanggung jawab CI sebgai ISP.<BR>
<BR>
Penyelenggaraan telekomunikasi oleh CI hanyalah sebatas Internet Service Provider (ISP) yaitu <BR>
penyelenggaraan jasa akses internet sebagai bagian dari jenis penyelenggaraan jasa multimedia. Dan <BR>
untuk itu CI telah memiliki ijin sebagai subnet yang berhak atas ijin ISP di wilayah Bali, Nusa <BR>
tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Sesuai asas legalitas dalam Hukum Pidana Indonesia, hal ini <BR>
bukanlah suatu pelanggaran karena tidak ada kalusula hukum yang secara tegas/jelas melarang <BR>
kerjasama subnet. Sebaliknya, justru ada ketentuan yang membolehkannya.<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; a.. Berdasarkan Bab VIII (Pasal 90-94) PP No.52 tahun 2000 tentang Penyelenggaraan <BR>
Telekomunikasi, APJII merupakan Lembaga semi pemerintah yang kepengurusannya dikukuhkan oleh <BR>
Menteri. APJII mempunyai fungsi: menghimpun pendapat, pemikiran dan pandangan masyarakat tentang <BR>
pengembangan pertelekomunikasian; mengkaji dan merumuskan pendapat yang berkembang di masyarakat <BR>
sebagai bahan usulan kebijakan dan atau peraturan yang berkaitan dengan pembinaan, pengaturan dan <BR>
penyelenggaraan telekomunikasi. Berkaitan dengan praktek subnet, APJII dalam Standard Layanan <BR>
Internet Resources menyatakan bahwa IP Address di-assign berdasarkan kebutuhan teknis bukan bandwith <BR>
sehingga membolehkan adanya subnet/franchise/reseller. Hal ini dinyatakan oleh APJII yang merupakan <BR>
kumpulan orang-orang ahli intelektual di bidang telekomunikasi [Pasal 91(1e)]. Dapat disimpulkan <BR>
terhadap kerjasama subnet ini adalah bahwa TIDAK ADA aturan hukum yang melarang subnet TETAPI ADA <BR>
aturan hukum yang membolehkan<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; a.. Penyidik telah melakukan pemeriksaan tehadap 6 (enam) ISP lainnya yang berada di Bali. <BR>
Hasilnya diketahui bahwa ke-6 ISP tersebut sama sekali tidak mempunyai ijin bahkan ada yang memiliki <BR>
lebih dari satu alat seperti milik CI yang disita penyidik. Namun terhadap 6 (enam) ISP tersebut <BR>
tidak dilakukan penyidikan lebih lanjut seperti yang dialami CI. Setelah penyitaan terhadap CI, <BR>
barulah 2 (dua) dari 6 (enam) ISP tersebut mendaftarkan permohonan perijinan. Hanya sebatas <BR>
pendaftaran permohonan.<BR>
<BR>
<BR>
Setelah melalui proses yang sangat panjang dan lama maka pada tanggal 17 Maret 2005 berkas <BR>
penyidikan dilimpahkan kepada penuntut umum T7 dan T8 di Kejaksaan Tinggi Bali. Namun sama halnya <BR>
seperti perbuatan kriminal yang dilakukan para aknum polisi di Polda Bali maka pada tahap ini para <BR>
oknum jaksa juga melakukan perbuatan kriminal terhadap P1.<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; a.. Saat pelimpahan T8 melakukan pelecehan/penghinaan yang merendahkan derajat dan martabat <BR>
P1. T8 menanyakan hal-hal yang tidak menjadi materi Berita Acara Pelimpahan yaitu mengenai status <BR>
perkawinan P1 dan P2 juga hubungan anak dengan P1. T8 memberikan komentar yang sangat menyinggung <BR>
perasaan P1 karena merendahkan status wanita Bali yang hidup berkeluarga dengan pria asing.<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; b.. Selanjutnya T8 memberikan berkas kepada T7 di Kejaksaan Negeri Denpasar untuk <BR>
dilanjutkan proses pelimpahannya. T7 melakukan pengancaman kepada P1 melalui S8 untuk melakukan <BR>
penahananan.<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; c.. S8 menyampaikan bahwa tidak cukup alasan untuk melakukan penahanan karena; Barang bukti <BR>
telah disita, sehingga P1 tidak mungkin mengulangi lagi perbuatannya, selama proses penyidikan di <BR>
Polda Bali P1 tidak pernah melalaikan wajib lapor 2 (dua) kali seminggu, P1 memiliki aset, keluarga <BR>
dan leluhur di Bali sehingga tidak ada niat sedikitpun untuk melarikan diri meninggalkan Bali. Namun <BR>
T7 mengatakan bahwa secara objektif memang demikian tetapi penilaian subjektif T7 dapat membuat P1 <BR>
ditahan.<BR>
<BR>
<BR>
&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; d.. T7 menawarkan kerjasama apabila P1 memberikan uang sebesar Rp 4.000.000,- (empat juta <BR>
rupiah) kepada T7 maka penilaian T7 akan berubah dan tidak akan menahan P1. Karena ketakutan akibat <BR>
tekanan tersebut akhirnya P1 memberikan uang yang diminta.<BR>
<BR>
<BR>
Demikian laporan pengaduan ini saya sampaikan dengan sejujurnya dan saya buat tanpa ada pengaruh / <BR>
tekanan dari pihak manapun.<BR>
<BR>
<BR>
Hormat Saya,<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
(Harald Bleckert)<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
Indeks Daftar Nama dan Bukti Surat<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
P: Pelapor T: Terlapor S: Saksi B: Bukti<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
Daftar Nama:<BR>
<BR>
<BR>
CI : CV. Candi Internet<BR>
<BR>
PLB : PT. Pasifik Lintas Buana (VIP.net)<BR>
<BR>
BL : Blue Line. ISP yang merupakan pesaing bisnis CI di Bali<BR>
<BR>
TDM : PT. Telemedia Dinamika Sarana<BR>
<BR>
BB : Bali Bakery di jalan Hayam Wuruk - Denpasar<BR>
<BR>
P1 : Sang Ayu Made Karnasih (direktur utama CV. Candi internet)<BR>
<BR>
P2 : Harald Bleckert (Business Development Manager CV. Candi Internet)<BR>
<BR>
P3 : I Made Karta Susila (teknisi CV. Candi Internet)<BR>
<BR>
T1 : AKBP Edy Suswanto, Sik (Kasat Opsnal 1 Reskrim)<BR>
<BR>
T2 : AKP Tri Kuncoro (Ka Unit Cyber Crime)<BR>
<BR>
T3 : Idodo Simangunsong (Wa Unit Cyber Crime)<BR>
<BR>
T4 : Iptu Ahmad Jaelani (Pa Unit Cyber Crime)<BR>
<BR>
T5 : Zulfikar (Unit Cyber Crime)<BR>
<BR>
T6 : Kombes AS Reniban (Kabid Humas Polda Bali)<BR>
<BR>
T7 : Ida Bagus Wiswantanu, SH<BR>
<BR>
T8 : Suhadi, SH<BR>
<BR>
S1 : Ibu Judith (ketua Asosiasi Warnet Indonesia) Awari di Jakarta<BR>
<BR>
S2 : Ir. Slamet Wibowo, MM (Kepala Balai Monitoring Bali)<BR>
<BR>
S3 : Philip Soelistio (pendiri ISP Indo.net)<BR>
<BR>
S4 : Richy Santosh (karyawan CV. Candi Internet)<BR>
<BR>
S5 : Awan (karyawan CV. Candi Internet)<BR>
<BR>
S6 : R. Azhari, SH (advokat Sang Ayu Made Karnasih dan karyawan CI lainnya)<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
Daftar Bukti Surat:<BR>
<BR>
<BR>
B-1 : Akta Notaris Pendirian CV. Candi Internet<BR>
<BR>
B-2 : CV. Primanusa Infodata (Subnet PT. Indonet yang berada di Makasar)<BR>
<BR>
B-3 : Ijin ISP milik PT. Pasifik Lintas Buana (VIP.net)<BR>
<BR>
B-4 : Perjanjian Kerja Sama Subnet antara PLB dan CI<BR>
<BR>
B-5 : Undangan Sosialisasi Peraturan oleh Balai Monitor<BR>
<BR>
B-6 : Ketentuan APJII tentang subnet/franchise/reseller<BR>
<BR>
B-7 : Tanda Terima penyerahan barang<BR>
<BR>
B-8 : APJII: Kasus Jogja dan Bali Bukti Lemahnya Pembinaan Postel (detik.com)<BR>
<BR>
B-9 : Dianggap Ilegal, Perangkat ISP Bali Disita Polisi (detik.com)<BR>
<BR>
B-10 : ISP Bali Bersedia Patuhi Perijinan (detik.com)<BR>
<BR>
B-11 : Surat Panggilan kepada P1 sebagai Tersangka<BR>
<BR>
B-12 : Fotokopi Konsep BAP Tersangka<BR>
<BR>
B-13 : Harian Nusa Tenggara, &quot;Polda Sita Penyadap Data Satelit&quot;<BR>
<BR>
B-14 : Harian Radar Bali, &quot;Penyedia ISP Gelap Ditertibkan&quot;<BR>
<BR>
B-15 : Harian DenPost, &quot;Polda Bali Gerebek Warnet Ilegal&quot;<BR>
<BR>
B-16 : Surat Panggilan kepada P1 untuk Memberikan Keterangan Tambahan<BR>
<BR>
B-17 : Surat Panggilan kepada P3 untuk Interogasi Kedua<BR>
<BR>
B-18 : Surat Panggilan kepada P3 untuk Interogasi Ketiga<BR>
<BR>
B-19 : E-mail S3 kepada P2<BR>
<BR>
B-20 : Berita hukumonline.com<BR>
<BR>
B-21 : Surat IndoWLI perihal Pengaduan<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
<BR>
</tt>


<!-- |**|begin egp html banner|**| -->

<br>
<tt><hr width="500">
<b>Yahoo! Groups Links</b><br>
<ul>
<li>To visit your group on the web, go to:<br><a href="http://groups.yahoo.com/group/indonesian-studies/">http://groups.yahoo.com/group/indonesian-studies/</a><br>&nbsp;
<li>To unsubscribe from this group, send an email to:<br><a href="mailto:indonesian-studies-unsubscribe@yahoogroups.com?subject=Unsubscribe">indonesian-studies-unsubscribe@yahoogroups.com</a><br>&nbsp;
<li>Your use of Yahoo! Groups is subject to the <a href="http://docs.yahoo.com/info/terms/">Yahoo! Terms of Service</a>.
</ul>
</tt>
</br>

<!-- |**|end egp html banner|**| -->


</body></html>



